Harmoni Bahasa Ibu di Boyang Kayyang: Para Juara FTBI Mandar Bersatu dalam Kurasi Puspresnas

Polewali Mandar – Semangat pelestarian bahasa ibu kembali berkobar di Polewali Mandar. Sebanyak 12 talenta muda, para juara Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat kabupaten untuk kategori Bahasa Mandar, berkumpul di lokasi yang sarat akan keindahan alam dan budaya, Boyang Kayyang Buttu Ciping. Tujuan kedatangan mereka pada 28-29 April 2025 adalah untuk menjalani proses pengambilan video parade kalindaqdaq (puisi tradisional Mandar) yang akan dikurasi oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).

Boyang Kayyang Buttu Ciping, dengan lanskap perbukitan yang memukau dan suasana yang tenang, menjadi latar belakang yang sempurna untuk melestarikan dan mempromosikan keindahan kalindaqdaq. Tempat ini seolah menjadi saksi bisu bersatunya para pewaris tradisi lisan Mandar yang berbakat ini.

Sebanyak 12 juara dari berbagai kategori lomba Bahasa Mandar di FTBI tingkat kabupaten hadir dengan antusias. Mereka adalah yang terbaik dari yang terbaik, telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam melantunkan dan menghayati kalindaqdaq. Kini, mereka kembali menunjukkan kebolehan mereka di depan kamera, dengan harapan karya mereka dapat dinikmati dan diapresiasi di tingkat nasional.

Proses pengambilan video ini merupakan tindak lanjut dari keberhasilan mereka di FTBI tingkat kabupaten. Karya-karya kalindaqdaq yang mereka tampilkan dinilai memiliki kualitas yang tinggi dan layak untuk diikutsertakan dalam kurasi Puspresnas, sebagai upaya untuk melestarikan dan mempopulerkan bahasa ibu di kalangan generasi muda.

Salah satu peserta didik SD Negeri 010 Palece yang bernama Annur Ramadhani Aco turut andil dalam pengambilan video tersebut. “Ini merupakan suatu kebanggaan bagi sekolah kami, untuk pertama kali ikut lomba ini dan alhamdulillah meraih juara 1, edepannya kami akan terus melakukan latihan untuk mencari potensi peserta didik kami untuk kemuidian diikutkan kembali ke lomba seperti ini ujar kepala sekolah Hj. Nurhaedah, S.Pd.

Di bawah arahan tim produksi yang profesional Bapak Muhammad Adil Tambono, para juara FTBI ini dengan penuh semangat melantunkan kalindaqdaq dengan berbagai tema dan gaya. Ekspresi wajah, intonasi suara, dan penghayatan makna puisi menjadi fokus utama dalam pengambilan gambar. Keindahan alam Boyang Kayyang semakin menambah nilai artistik dari video yang sedang dibuat.

Kalindaqdaq sendiri merupakan salah satu bentuk puisi tradisional Mandar yang memiliki nilai sastra dan filosofi yang mendalam. Melalui kata-kata yang indah dan berima, kalindaqdaq seringkali menyampaikan pesan-pesan moral, nasihat, hingga gambaran kehidupan sosial dan budaya masyarakat Mandar.

Kegiatan pengambilan video ini tidak hanya menjadi ajang untuk mendokumentasikan bakat para juara FTBI, tetapi juga menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antar peserta dari berbagai sekolah. Mereka saling berbagi pengalaman dan memberikan dukungan, menunjukkan semangat kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya.

Diharapkan, video kalindaqdaq dari para juara FTBI Mandar ini dapat lolos kurasi Puspresnas dan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk lebih mencintai dan mempelajari bahasa ibu mereka. Upaya yang dilakukan di Boyang Kayyang Buttu Ciping ini menjadi bukti nyata komitmen untuk menjaga dan mengembangkan kekayaan bahasa dan budaya Mandar agar terus lestari di tengah arus globalisasi. Keindahan kalindaqdaq, yang dilantunkan dengan penuh penghayatan di tengah keindahan alam Mandar, akan menjadi sumbangsih berharga bagi khazanah bahasa dan sastra Indonesia.